Status
1
  •  Aku adalah pemimpin anak  anak Adam [ umat manusia ] di Hari kebangkitan
    [ perkataan ini ] bukan untuk berbangga (membangkan diri)
  • dan di tanganku panji pujian [ liwa ‘ AlHamdi ] ucapan  ini juga bukan untuk berbangga (menyombongkan diri
  • tiadalah seorang nabi baik Adam maupun yang lain, melainkan bemaung di bawah panjiku itu, ucapan ini bukanlah untuk berbangga (menyombongkan diri)
  • dan aku adalah orang yang  pertama memberi  syafaat (pertolongan di Hari  kiamat)
  • dan orang yang pertama diberi izin memberi syafaat,
  • dan aku adalah orang yang pertama mengetuk pintu surga.  Maka Allah akan memasukkan aku ke dalamnya dan bersamaku orang orang fakir  kaum mukminin,  (perkataan ini juga) bukan untuk berbangga (menyombongkan diri)
  • dan aku adalah orang termulia di sisi Tuhanku, baik di antara orang orang terdahulu maupun di antara orang orang yang terakhir (perkataan ini juga bukan untuk) berbangga (menyombongkan diri)” . HR  at Tirmidzi

Al Qodhi ‘Iyadh di dalam kitabnya “asy Syifa” menerangkan sebuah isyarat yang halus dalam Al  Quran yang menerangkan keutamaan Rasulullah SAW atas semua nabi yang mulia, yaitu Allah telah berbicara dan menyeru nabi nabi itu dengan nama pribadinya masing masing.

‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpl itu. ” (QS. Ash  SHaaffat: 1o41o5)

“Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera. ” (QS. Hud: 48)

“Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih [melebihkan] kamu dari manusia yang lain. ” (QS. Al A‘raf: 144)

Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:  ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia  ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua TuHan  selain Allah?”’ (QS. Al Maidah: 115)

Dan demikianlah seterusnya.  Mereka semua diseru dengan menyebut namanya masing masing secara langsung. Tidak demikian halnya dengan penutup para nabi, Rasul Utusan Allah, Muhammad SAW. Allah menyeru Rasulullah dengan menyebutkan jabatannya sebagai Nabi atau Rasul, seperti:

“Hai Nabi, sesuingguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa khabar gembira dan peringatan”

QS. Al Ahzab: 45

“Hai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu demi Tuhanmu ”.

QS. Al Maidah: 67

Tidak ada di dalam AlQuran satu ayat pun di mana di dalam pembicaraan Allah kepada Rasulullah itu diseru namanya secara langsung,  seperti halnya dengan nabi nabi yang lain. Semua ayat itu menyeru Nabi MuHammad SAW dengan ungkapan yang menunjukkan nubuwah (sebagai kedudukan dan jabatannya), tidak ada di  dalam ayat ayat itu satu  ayat pun yang menyatakan “Ya Muhammad”.

Hal ini merupakan salah satu isyarat yang halus sekali menunjukkan kedudukannya yang agung dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Utusan Allah yang paling utama tanpa kecuali.  Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam atas  makhluk pilihan, Nabi yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh Alam, yang telah dimuliakan Allah dengan kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh setiap makhluk pun, lalu ia pun dijadikan pemimpin dan junjungan semua makhluk baik yang terdahulu maupun yang kemudian.

Bolehkah Membanding bandingkan Keutamaan Para Nabi?

Mungkin ada orang yang mengatakan: “Bagaimana Anda membanding bandingkan keutamaan para nabi dan Rasul,” padahal Al Quran yang suci berfirman:

“…Kami tidak membeda bedakan antara seorang pun [dengan yang lain] dari rasul rasulNya”… (QS. Al  Baqarah: 285)

Jawabnya adalah:  membeda bedakan antara para rasul yang dimaksud oleh ayat ini ialah, bahwa seseorang beriman dengan rasul rasul itu dan menginginkan sebagian yang lain, seperti yang dilakukan oleh sebagian dari ahli kitab (orang Yahudi dan Nasrani).  Mereka beriman dengan sebagian para nabi dan mengingkari kerasulan sebagian yang lain. Dengan demikian mereka telah membeda bedakan di antara rasul rasul itu. Allah telah menjelaskan pengertian demikian ini dalam banyak ayat Al Quran, antara lain Frman Allah ini:

“Sesungguhnya orang orang yang kafir kepada Allah dan rasulnya dan bermaksud membeda bedakan antara keimanan kepada Allah dan rasulnya dengan mengatakan:  ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian [yang lain] serta bermaksud  [dengan perkataan itu] mengambil jAlan [tengah] di antara yang demikian [iman dan kafir]. ”  QS. An Nisa’: 150

Jadi, yang dimaksud membeda bedakan bukanlah membanding bandingkan keutamaan rasul rasul itu, dengan dalil bahwa Allah telah membanding  bandingkan keutamaan mereka dengan pernyataan yang tegas dalam Al Quran,  Allah berfirman:

‘Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi nabi itu atas sebagian yang lain dan Kami berikan Zabur kepada Daud. ” (QS. Al Isra: 55)

‘Rasul rasul itu Kami lebilhkan sebagian mereka atas sebagian yang lain di antara mereka ada yang Allah berkata kata [langsung dengan dia] dan sebagian lagi Allah meninggikannya beberapa derajat dan Kami berikan Isa bin Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan roh Al Qudus”.  QS. AlBaqarah: 253

Jadi,  maksud membeda bedakan di antara para rasul dan para nabi itu telah pula dijelaskan oleh ayat ayat lain, seperti diterangkan oleh penjelasan Rasulullah sendiri dalam Hadis Hadis Nabi, seperti dalam sebuah Hadis riwayat Hadis sHahih Muslim;

“Demi yangjiwaku di tangannya tiadalah seseorang dari mereka mendengar (tentang kerasulanku) baik dia seorang Yahudi maupun Nasrani kemudian tidak beriman dengan (ajaran) yang aku diutus dengannya melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”.

Diutusnya  Para Nabi

Adalah merupakan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada HambaHamba·Nya serta kebijaksanaanNya Yang Maha Halus dan anugerahNya kepada mereka, bahwa Allah mengutus para nabi dan rasul sebagai pembawa kabar gembira (tentang surga dan kenikmatan di akhirat), dan pemberi peringatan (tentang neraka dan siksa jahanam di akhirat), agar rasul rasul itu menjadi mercu suar petunjuk ke arah kebenaran, tanda tanda yang menerangkan (sifat) , serta bintang bintang yang menerangi langit; kemanusiaan menerangi Alam ini ke arah jalan kebajikan, memberi petunjuk kepada kebahagiaan, menyelamatkan manusia dari cengkeraman syirik dan keberhalaan serta mengangkat mereka ke jenjang kemuliaan dan kesempumaan.

Adalah merupakan sunah (hukum dan peraturan) Ilahi yang berlaku atas hambaNya, bahwa Allah tidak akan menghukum atau menyiksa suatu umat sebelum mengutus kepada umat itu seorang utusan (nabi/rasul) yang menyeru orang kepada ketaatan dan kebajikan, melarang mereka melakukan keburukan dan kejaHatan,  dengan demikian tidak ada Alasan lagi bagi seorang pun untuk tidak beriman.

Dan tidaklah Kami mengazab [menyiksa] sebelum Kami mengutus seorang rosul. QS. AI Isra’: 15

Sehingga di hari kiamat tidak ada orang mengatainan: “Tidak pemah datang kepada kami seerang pun yang menyampaikan kabar gembira atau penting. Lalu meniadikan yang demikia.n itu sebagai alasan untuk tidak beriman, atau sebagai hujah terhadap Allah bahwa (karena itu) mereka tjdak layak menerima azab.

“Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu [diturunkan], tentulah mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah. “’

QS. Thaha: 134

Mengapa Nabinabi itu Diutus dari Baugsa Manusia Oleh karena tujuan diutusnya para nabi yang mulia itu untuk menjadi duta (perantara) antara Allah dengan HambaHambaNya, sehingga dapat menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT kepada manusia, memberi petunjuk kepada mereka tentang apa yang disukai Allah dan apa yang tidak disukai olehNya, menjadl teladan bagi manusia dalam perilaku, akhlak dan tindak tanduk. Oleh karena duta itu seHarusnya mempakan makhluk yang dapat dihubungi dan orang dapat berkumpul dan bergaul dengannya serta belajar daripadanya, maka Allah mengutus rasulrasul itu dari bangsa manusia untuk menyampaikan perintahperintah Allah, dan menyeru manusia kepada kebaHagiaan dunia dan akhirat. jika sekiranya rasulrasul itu dari bangsa mAlaikat, manusia tidak akan dapat belajar dari mereka, atau berkumpul dan bergaul dengan mereka. Manusia tentunya akan mendapat Alasan untuk tidak mengikuti mereka dengan mengatakan: “Mereka yang diutus Allah kepada kita dan kita dipenntah mengikuti mereka bukan dari jenis dan bangsa kita, mereka bukan manusia melainkan mAlaikat, tabiat kita berbeda dengan tabiat mereka. Mereka Iebih tinggi dan lebih luhur budi pekertinya, lebih suei amAl perbuatannya, lebih mulia pangkatnya, sebab suei itu———seperti diterangkan eleh Allah— tidak pemah menentang Allah terHadap apa yang diperintahkan kepada mereka serta mengerjakan apapun yang dipetintahkan dan

6 lzahwa mereka selAlu beribadah tidak pemah berhenti mengexjakan  ibadah, mereka selAlu bertasbih memuji Allah slang dan mAlam tiada hentinya”.

Kemudian mAlaikat im tjdak makan dan tidak minum, tidak mempunyai syahwat dan Hawa nafsu atau keeenderungan untuk melakukan maksiat. karena mereka Hamba—Hamba Allah yang dimuliakan. Dari segl     yang diutus itu mAlaikat, manusia tidak akan dapat b€la§a; daminya. Atau berkumpul dan bergaul dengannya, sebab   mAlaikat itu datang dalam bentuk aslinya

niseaya orang aka;   ketakutan, atau jatuh pingsan, karena o1″ang tidal: tarbiasa meliHat bentuk semaeam itu yang begitu agung dan luar bias.;

Diriwa}atZ·;Al1—pada suatu Hari—k€tika pulang dari goa hira, Nabi SAW meheieengar suara lAlu ia meliHat ke muka goa dan menj»`Al;sikan   jibzil sedang duduk di atas batu dan telah memenuin ruangan   langit dan bumi. Nabi ketakutan dan seluruh mbdinya menjaeh gemetar. Setelah sampai di rumah, Nabi berseéru: ‘S€limu2:3la.h zfstu …. selimutjlah aku …. ” Pemah pula sekAli Nabi SAW meliHaa mAlaikazjibnl sedang membentangkan sayapnya sehingga menumpi arab masyriq (timur) dan maghrib. Sedangjika mAlaikat itu darang eiAlam bentuk manusia, niseaya orang akan menjadi ragu dan kaeau menentukan apakah dia benanbenar mAlaikat atau manusia.

HAl yang demikian telah eliutarakan dalam ALQuran sebagai sanggaHan terHaelap laaum musqilein (kailr Mekah), yaitu ketika mereka menuntut g pang eliutus (sebagai rasul itu) mAlaikat dan bukan manusia.

‘Dan mereka berkata: Zllerzgapa tidak diturunkan kepadanya [MuHammad] mAlaikatf dan kAlau Kami turunkan kepadanya mAlaikat tentu selesailah urusan itu [yakni Allah akan mem binasakan mereka seketika   setelah diturunkan mAlaikat itu mereka tidak beriman] kemudian mereka tidak diberi pmangguHan [waktu sedikit pun]. Dan kAlau Kami jadikan rasul itu dart mAlaikat tentulah Kami jadikan dia berupa lakilaki, Kami pun akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. ” (QS. AlAn‘am: 89)

Arti ayat ini iAlah: “KAlau sekiranya Kami (Allah) menjadikan nabi itu mAlaikat seperti yang mereka inginkan, niseaya Kami akan menjadikannya dalam bentuk manusia supaya mereka dapat bergaul dan belajar daripadanya. Dengan demikian Hakikatnya akanmenjadi kaeau (apakah dia mAlaikat anau mAl1usia).Orang akan menjadi ragu terHadapnya dan akan kembah menuntut agar nabi itu benarbenar dan bangsa mAlaikat”. ‘Allamah AlQurthubi menulis dalam tafsimya “Al]amé’ Li Ahkam AI—Qzx`;n   Ketika menafsirkan ayat tersebut di ams sebagai berikut:

“Yakni bahwa mereka amanusia) tidak dapat mehHa; mAlaikat dalam bentuknya (yang ash) kecuAli setelah menjelma dalam bentuk jasmani yang   sebab setiap jenis (makhluk) im akan merasa Lerbiasa dengan jenisnya, serta menjauhi yang bukan jenisnya. mAlaa   serbganya Allah menjadikan utusanNya kepada

manusia iru   nxeaya mereka (manusia) akan menjauhkan din dan engga;2 msnemuinya, mereka tidak merasa senang kepadanya, mereka Alan merasa takut berbicara dengannya serta bersikap HatiHan uerHadapnjva. Sehingga enggan berbicara dan bertanya kepadanya sema menjadi akrab dengannya (sedangjika menjelma dalam bennul; manusia) niseaya mereka akan mengatakan: ‘Kamu bukan mAlaikar melainkan manusia biasa o1eh karena itu kami ddak akan beriman kepadamu.’ LAlu mereka akan kembAli seperti semula di mana mereka berkata tentang MuHammad SAW bahwa dia manusia biasa (bukan nabi), tidak ada beda apapun antara dia dengan mereka, dan dengan cara ini mereka mengaeaukan pikiran dan meragukan Hati orang. Maka Allah memberitahukan mereka, kAlau sekiranya Dia menumnkan mAlaikat dalam bentuk manusia mereka pun akan mendapat jAlan untuk meragukannya, seperti yang mereka lakukan (dengan meragukan nubuwa/1 MuHammad SAW)”. (Ta]%ir AlQurthubi. jll R 394)

DAlam sebuah ayat yang lain Allah menyebutkan hikmah lain tentang diutusnya nabi/rasul dari bangsa manusia dan bukan mAlaikat, yaitu orang yang diutus Harus sejenis dengan mereka yang dia diutus kepadanya, sehingga jika éeandainya penghum bumi ini mAlaikat niseaya rasul yang diutus juga mAlaikat, seperti dinyatakan dalam ayat ini:

“Dan tidal: ada sesuatu yang mengHalangi memusia untuk berimem tatkAla datang pet/unjuk kepadanya kecuAli perkataan mereka: Yldakah Allah mmgutus seamng mamuia menjadi msul ?’ Katakanlah: ‘KAlau seemdainya ada mAlaikat—mAlaikat yang bexjAlanjAlan sebagai penghuni bumi niseaya Kami tumnkem dam lemgit kepada mereka mAlaikat menjadi msul. “’ (QS. AlIsra’: 9495)

Kaum Musyrildn (Kafir Mekah)

Baum musyrikin ini telah menentang diutusnya Nabi MuHammad SAW sesbagai seorang rasul. Sebagaimana seorang manusia (biasa) dia mengaku dirinya sebagai nabi. Dia manusia biasa sama seperti mereka, makan, minum. udur, dan berjAlanjAlan di pasanpasar. Mereka menjadikan Hal ml sebagai Alasan unruk mendustakan dan meneela kerasulanma. Mereka menuntut supajva rasul itu orang yang mempunyAl kekuasaan. pangkat yang tinggi yang membuat dia patut menjadi nabi. DlseHahkan kekayaan yang banyak Harta karun yang tak temilai. tamaanaman yang asri serta segAla keindaHan duniawi yang biasa   oleh para raja dan psmbesanpembesar dunia, sebAlikma merelaa meljHat nabi ini adalah seerang yatim lagi miskin. Oleh karena itu. mereka beranggapan bagi Allah—MaHa Suei Allah dan semua anggapan mereka itu—untuk melakukan yang demikian im nAlem mengutus seorang nabi yang yatim piatu lagi miskin). Oleh Harena itu mereka mengingkan kerasulannya.

Mereka mengatakan: ‘lluHammad tukang sihir, dapat menyihir orang dengan daya Larik tutur katanya serta keindaHan pem bicaraannya, sedang a§at—a$at yang disampaikan adalah dongeng dongeng orang kuno”. Marilah kita baea anggapan mereka ini dalam ayat berikut.

“Mereka berkata: Zklengapa rasul ini memakan makanan dan berjAlan di pasarjaasar? mengapa tldak diturunkan kepadanya mAlaikat agar mAlaikat itu memberi peringatan bersamasama dengan dla. Atau mengapa iédah ada kebun baginya yang dia dapat makan dan [Hasil]—nm,’ dan orangorang yang zAlim itu berkata: Kama sekAlian tidal: lai 12 Hanya mengikuti scarang lakl laki yang terkena sihix ’PerHaz‘ékambh bagaimana mereka membuat perbandingan tentang kamu., maka sesatlah mereka, mereka tidal: sanggup [mendapatkan] jAlan [zmtula menentang kerasulanmu].

MaHa Suel Allah yang jika Dia menghendaki, néseaya dnadikaw l nya bagimu taman—taman yang mengAlir dl bawahnya beberapa sungaé dan dnadikannya pula untukmu lstanaistana, bahkan mereka mendustakan Han klamat dan Kami menyediakan neraka yang menyAlamyAla bagi siapa yang mendustakan Han klamat. ” (QS. AlFurqan: 711) Demikian itulah kita jumpai legika orangorang musyrik yang sesat di setiap zaman. Logika yang sama dan Hampir tldak berubah. Setiap kAli Allah SWT mengutus seorang rasul, berdirilah kaum musyrikin (nrang kafir) menentang dengan penuh kesembongan dan penelakan seraya bertanyatanya: “Sesungguhn3a dia (nabi ini) manusia biasa seperti kita juga, makan, minum, dan udur seperti kita. Mengapa dia (nabi/rasul itu) bukan mAlaikan? Mengapa bukan seerang bangSAWan atau pembesar bangsa? Mengapa bukan Hartawan kaya yang berkuasa?” Mari kita saksikan sikap menentang dan mengingkari mi dalam riwayat Nabi Nuh as. Seperti diuraikan AL—Quran:

‘Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lAlu ia berkata: Hai Haumku, sembahlah olehmu Allah [karena] sekAlikAli tidak ada TuHan bagimu selain Dia, maka mengapa kamu tidak bertakwa kqbadaE\ya?’ Maka pemukapemuka arang kafir di antara kaumnya menjawab: ‘Orang ini tidak lain HanyAlah manusia seperti kamu yang bermaksud hendak menjadi  scarang yang lebih tinggl dam kamu. Dan kAlau Allah menghendaki tentu Dia mengutus bebempa orang mAlaikat, belum pemah kami mendengar [seruan yang seperti ini] pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Dia tidak lain Hanya seamng lakélaki yang berpenyakit gila,’ maka tunggulah [sabarlah] terHadapnya sampai suatu waktu. ” (QS. Al—Mukminun: 2325)

PerHatikan pula sikap kaum ‘Ad terHadap nabi mereka Hud as yang muliaz ‘Dan berkatAlah pemukwpemuka yang kahr dan kaumnya dan yang mendustakan akan menemui Han akhirat [kelak] dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia. ‘[Orang] ini tidak lain HanyAlah manusia seperti kamu, dia makan dan apa yang kamu makan, dan minum dan apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekAlian menaati manusia yang seperti kamu, niseaya bila demikian, kamu benarbenar [menjadi] orang yang merugi. Apakah dia menjanjikan kepada kamu sekAlian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadl tanah dan tulang belulang kamu sesungguhnya akan dikeluarkan dan kubzmnu ?]auh, jauh sekAli [dar! kebenaran] apa yang dlaneam kan kepadamu itu… “’ (QS. AlMukminun: 3336)

Kemudian marilah kita simak pula sikap kesombongan dan keangkuHan Fir’aun, rzga yang jaHat, bersama dengan para Algojo Algojonya dalam mengHadapi kedua nabi yang mulia Musa as dan Harun as: {‘Kegnudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan mzmbawa tandazfanda [kebesaran] Kami dan bukti yang nyata [mukjizat] kepada Fifaun dan pembesarpembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah arangarang yang sombang. Dan mereka berkata: Zlpakah [patut] kita pereaya kepada dua oirang manusia sepkrié kita juga jyadaHal kaum. mereka [Bani Isra’il] adalah OT£Z7ig’<J'”“G72ié*V(Z7’Lg mengHambakan diri kepada kita. ’ Maka tetaplah mereka mmzd·ustakan keduanya sebab itu mereka termasuk orangerm  yang dibinasakan. ” [ (QS. AlMuknnnun: 4548)

Selanjuenya   perHaukan pula sikap orangOrang kafir Quraisy dalam mengHadapi ssruan dan dakwah junjungan para rasul Nabi kita MuHammad s.a¤·.; sebagai berikut: “Dan apaéifz Teareka meliHat kamu [MuHammad] mereka HanyAlah inzn·`;ldi,é¤vz kamu sebagai qekan [dengan mengatakan]: Ynikah ara   yung déutus Allah sebagai rasul?’ Sesungguhnya Hamlbirlah dia m.e<·zj.·esatkan kita dan sesembaHan—.sesembaHan kita, seandaznwa kim Sfdak sabar menyembahnya. Dan kelak mereka akan. mengemhni Alma? mereka meliHat azab siapa yang paling sesatjAlannya. ` 4QS. Al—l·`urqan; 4l·42) Kita saksikan dalam ayavayat ini bahwa sikap mereka semua Hampir sama dan udak berubah. Sikap yang didasari kesombongan, keangkuHan dan penennangan. Seelah mereka buta atau pu1a·pura buta terHadap hilunah Allah yang AzAli (tidak berubah dari awAl hingga akhir), bahwa para nabi yang diutus kepada manusia juga Harus manusia dan bukan mAlaikat, oleh karena itu benarlah flrman Allah yang menyanAlmn; ‘ZDan tiadalah Kami mengutus sebelum kamu [MuHammad] melainkan o*rang·o’rang laki—laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bentanyAlah kepada orang yang punya pengetahuan [tmtang kitAlrkitab] jika kamu tidak mengetahui. ” (QS. anNah]: 43)

Tugas Para Rasul Utusan Allah

Oleh karena akAl manusia saga tidak eukup untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, di samping adanya soAl—soAl gaib yang agung yang tidak dapat diketahui oleh manusia kecuAli melAlui wahyu dan syariat (hukum agama), seperti sea] iman kepada Allah, sifatsifatNya Yang MaHa Tinggi, iman terHadap mAlaikat dan Hari kebangkitan (kembAli hidup sesuelah mati) dan dikumpuikannya manusia di Han kiamat, dsb, bempa HalHal yang bersifat gaib. Maka sepatutnyAlah hikmah Allah—Sang MaHa Peneipta—mengutus para rasul yang mulia kepaela Haznba HambaNya untuk menutup kemungkinan adanya Alasan bagl mereka untuk tidak beriman (karena tidal; adanya petunjuk) sehingga tidak ada jAlan lagi bagi manusia untul; berdalih di Han klamat fsebab rasulrasul ini telah diutus untul; memben petunjuk kcarah itu). Oleh karena itu maka para rasul ini mempunyai tugas yang agung dan jabatan yang sangat penung jabatan Para Rasul

Pertama: Menyeru orang unruk berlbadah menyembah Allah Yang MaHa Esa, MaHa Kuasa. jabatan ini sebenamya merupakan jabatan utama dan rugas pol;ol; di mana para rasul diutus untuknya yaitu memperkenaikan Al—KHalil;, Sang MaHa Peneipta kspada makhluk dan Hamba—Nya, supaya mengimani keesaanNya, mengkhususkan ibadah dan penyembaHan Hanya kepada—Nya dan bukan kepada selain daripadaNya.

‘7)an Kami tédak mengatas scarang msu! pan sebelam kama melainkan Kami wahyakan kepadanya bahwasanya tidak ada TaHan [yang Hak] melainkan Aka [Allah], maka sembahlah Alehma sekAlian akan Aka. ” (QS. Al—Anbiya’: 25)

Dan firmanNya:

‘Y)an sesanggahnya Kami telah mengazfas rasal pada tiapnap amat [antak menyerakan] sembahlah Allah saja dan jaahilah tHaghut [sesembaHan selain Allah] maka di antara amabamat ita ada yang dibm petanjak Aleh Allah dan ada pala di antara nya arangarang yang telah pasti kesesatan baginya. .. ” (QS. anNahl: 36)

Kedua: Menyampaikan perintahperintah Allah dan larangan laranganNya kepada umat manusia. Perintah Allah itu Harus ada yang menyampaikan dan yang menyampaikan Harus manusia supaya orang dapat menerima dan belajar daripadanya untuk hikmah yang telah penulis terangkan di atas. Tugas tersebut telah dilakukan oleh para rasul dengan sebaik—baiknya. Tidak seorang rasul pun dari utusanutusau Allah yang merasa enggan atau mengundurkan diri sehingga urung menyampaikan dakwah (yang berupa parintah dan larangan Allah). Demikian dinyatakan oleh Al Qurlan suei: “.\Iereka adalah omng—orang yang menyampaikan risalahwisalah [ajaran] Allah, mereHa takut kepadaMa dan mereka tidak nwrasa takut kepada scarang pun selain Allah dan eulzuplah Allah sebagai pembuat perhitungan. ” (QS. AlAhzab: 39) Allah SVVT telah menjadikan rasul—rasul itu sebagai orang yang menyampaikan rlsalah Allah dan menyatakan kepada pemimpin para nabi, yaitu Nabi MuHammad SAW:

“Hai rasul, sambaiHan apa yang diturunkan kepadamu dari TuHanmu dan jiHa tidak kamu kezjakan [apa yang diperintahkan itu] berarti kamu tidah menyampaikan amanahZ\§>a, Allah memeliHara kamu dari [gangguan] manusia. Sesungguhnya Allah tidalz mambm petunjuk kepada arangarang yang kajix ” (QS. AlMaidah: 67)

Memberi petunjuk dan tuntunan manusia ke arah jAlan yang lurus. HAl demiinian juga merupakan tugas dan jabatan para rasul, seperti dalam EymanNya tentang Musa:

“Dan sesu rzggahnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat ayat Kami [elan Kami perintahkan kepadanya] keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kqaada eaHaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada Hari—Hari Allah [peristiwapenstiwa yang tevjadi pada umatumat terdahulu]. Sesungguhnya pada yang elemikian itu zierdapat tanda—tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap mang penyabar dan banyak bersyukur ” (QS. Ibrahim: 5)

Kemudian perHatjkanlah ayat—ayat berikut tentang tugas yang dibebankan kepada penutup para rasul, MuHammad SAW: ‘Y·IAl Nabi, sesunguhnya Kami mengutusmu untuk nwnjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada [agama] Allah dengan izinNya dan untukjadi eaHaya yang menerangi. ” (QS. AlAhzab: 4546)

Keempat: Agar rasulrasul itu menjadi eontoh tauladan yang baik bagi seluruh umat manusia. Allah mezmerintahkan kita untuk meneladani mereka, be1jAlan mengikuti garis yang dizjarkan oleh mereka. Rasul itu telah dnadikan eontoh kesempumaan dan tanda tanda keluhuran budi pekerti, sebab mereka adalah orangorang yang paling sempuma akAl pikirannya, paling suei perilakunya serta paling mulia pangkat dan kedudukannya, Allah berilrmanz

“Sesungg·ahnya telah ada pada din msu! itu sun tauladan yang baik bagimu [yaitu] bagi arangerang yang mengHarap rahmat Allah dan kedatangan Hari akhir dan banyak menyebut Allah. ” (QS. Al—Ahzab: 21)

Dan HymanNya pula: Mereka itulah orang—omng yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. . . ” (QS. Al—An‘am: 9o)

Kelima: Memperingaekan manusia tentang asal kejadian dan akibat (yang kelak akan diAlami manusia), memberi tahu manusia tentang Hal—Hal yang sangat berat dan sangat mengerikan yang kelak akan diAlami manusia sesudah man, seperti diperingatkan Allah dalam ayat ini:

“Hai golongan jin dan manusia apakah belum datang kepada kamu rasulrasul dan gAlongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat—ayat·Ku dan memberi peringatan kepadamu terHadap pertemuanmu dengan Hari ini? Alereka berkata: Kami menjadi saksi atas din kami sendiri. ’ Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiré bahwa mereka adalah orangarang yang ka]€1: lang demikian itu adalah karena TuHanmu tidaklah membinasakan kota—hota secara aniaya sedang [Jenduduknya dalam keadaan lengah. ” (QS. AlAn‘am: 13o131)

Keenam: Mengubah afah pandangan hidup manusia dari kehidupan duniawi yang fana ini kepada kehidupan yang kekAl abadi, karena para rasul memang diutus untuk mengubah pandangan hidup manusia dan sematamata memusatkan perHatian pada kehidupan duniawi yang sifatnya Hanya sementara, kepada kehidupan yang langgeng dan kekAl abadi di akhirat, seperti dalam ayat berikut:

‘Dan tidakhzh kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main—main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenamya kehidupan, kAlau mereka mengetahui. ” (QS. Al—Ankabut: 64)

Ketujuh: Dan akhimya, diutusnya para rasul itu adalah supaya manusia tidak punya Alasan di Hadapan Allah (yakni mengatakan, yang paling sempuma akAl pikirannya, paling suei perilakunya serua paling mulia pangkat dan kedudukannya, Allah bemnnan:

“Sesungguhnya telah ada {nada dirl rasul itu sun tauladan yang baik bagimu [yaitu] bagl orang—o»rang yang mengHarap rahmat Allah dan kedatangan Han akhir dan banyak mmyebut Allah. ” (QS. AlAhzab: 21)

Dan nrman—Nya pula: Mereka itulah orangomng yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. .. ” (QS. AlAn‘am: 9o) Kelhna: Memperingatlaan manusia tentang asal kejadian dan akibat (yang kelak akan diAlami manusia), memberi Lahu manusia tsntang HalHal yang sangau berar dan sangat mengerikan yang kelak akan diAlami manusia sesudah man, seperti diperingatkan Allah dalam ayat ini:

“Hai golangan jin dan manusia apakah belum datang kepada kamu rasulwasul dan golongan kamu sendhi yang nwnyampaikan kepadamu ayat—ayat—Ku dan member! peringatan kepadamu terHadap pertemuanmu dengan Had ini? Alereka berkata: Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri. ’ Kehidupan dunia telah mznipu mereka dan mereka menjadi saksi ata; diri mereka sendirl bahwa mereka adalah errang—o*rang yang kajix Yang demikian itu adalah karena TuHanmu tidaklah membinasakan katakata seeam anlaya sedang penduduknya dalam keadaan lengah. ” (QS. AlAn‘am: 13o131)

Keenam: Mengubah arah pandangan hidup manusia dari kehidupan duniawi yang fana ini kepada kehidupan yang kekAl abadi, karena para rasul memang diutus untuk mengubah pandangan hidup manusia dan sematamata memusatkan perHatian pada kehidupan duniawi yang sifatnya Hanya sementara, kepada kehidupan yang langgeng dan kekAl abadi di akhirat, seperti dalam ayat berikut:

‘Y)an tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main—main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenamya kehidupan, kAlau mereka mengetahui. ” (QS. AlAnkabut: 64)

Ketujuh: Dan akhimya, diutusnya para rasul itu adalah supaya manusia tidak punya Alasan di  bqahwa mereka tidal; beriman karena Lidak pemah datang erang ‘   memberi penngam;1 sebelmnnya, kAlau ada peringatan tentu mkzuni akan berimam. Shepard dalam firmzmNya: ‘.`\Iereka kami um.;  14 msul—rasul pembawa berita gembim dan pemberé peringatan sg? supaya tidak ada Alasan bagl mamma mzmbantah Allah ses;.;Z;,E djutusnya msulmsu! itu. ” (QS. anNisa’: 1*55

Itulah tugasmgas   jabatan para rasul yang mulia (salawat dan salam ata.; meneéza sémua), yang dapat kami uraikan secara ringkas. Dan Haute .¤+.QI;h lah yang kuasa memberi taufiq dan hidayah kepadajAlam   Zums. •I•

 

Advertisements

One thought on “Keutamaan Rasulullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s